10 Februari 2012

Membaca, Berdasarkan kemauan melihat untuk bersikap

Kakashi reading icha-icha paradise


Membaca, berdasarkan kemauan melihat untuk bersikap. Orang bisa melihat jika suatu objek diterangi cahaya dan mata menangkap pantulan/ pancaran/ pendaran cahaya dari objek tersebut. Hal ini tentu tak berlaku bagi tuna netra. Yang terpaksa harus mengoptimalkan indera lainnya untuk sekedar “membaca”. 

Sederhananya, Jika orang bisa melihat, artinya dia juga berkemampuan “membaca” secara normal. 


Sekalipun berbagai kelainan mata seperti tuna warna, mata minus, mata plus, silindris, juga eksis, namun dengan bantuan peralatan tambahan, hal-hal tersebut tak menghambat penglihatan orang  di zaman modern sekarang ini. (Kecuali tuna warna dikarenakan objek warna-warni  pun bakal hanya terlihat hitam/putih.)
 
Di saat seorang bayi lahir, Alangkah senangnya hati orang tua jika bayi itu membuka mata dan menangis sejadi-jadinya karena mungkin dengan itu, segala kemampuan normal manusia sudah tercetak disana (panca indera).

Di zaman dahulu ketika kita masih belajar membaca, tentu kita masih melafalkan berbagai huruf yang menjadi tulisan. Dan ketika disuruh untuk membaca di batin (dalam hati), anak-anak kecil masih kesulitan dan dengan mulut yang masih komat-kamit hanya sekedar membaca tulisan-tulisan sederhana.
Namun, hal-hal itu tentu seharusnya tak berlaku lagi untuk orang-orang yang beranjak dewasa apalagi tua yang sudah mengenyam minimal masa pendidikian SR, SD. Ataupun mempelajari bahasa resmi negeri ini secara autodidak.


Kakashi still with icha-icha paradise

Saya yakin orang yang membaca artikel saya ini membaca dalam pikiran(hati/ dibatin) dan mulutnya tak perlu komat-kamit lagi, kecuali anda membaca sambil mendengar lagu dan melafalkan liriknya, atau sedang berbicara dengan orang lain, apa malah sedang memvonis penulis blog ini jika anda tahu siapanya?
Seiring waktu berjalan, orang-orang mampu untuk membaca tanpa suara (diam). Hanya dalam satu kedipan mata,  2 halaman buku tamat dibaca, namun, bagaimana kita tahu kalau orang itu membaca, bukannya bengong sekalipun orang itu sedang memandangi buku/ tumpukan kertas/ laptop?

Jawabannya tentu berdasar dari apa yang dibaca dahulu, kalau baca buku komik/ novel/ kumpulan cerpen/ situs manga  ya tanyakan saja siapa lakonnya(pemeran utama), kalau baca koran ya tanyakan berita terkini, kalau baca buku iptek ya tanyakan teknis  struktur precast, misalnya.

Di zaman SMP-SMA-Kuliah. Membaca buku (pelajaran/ Mata Kuliah/ hal-hal yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan)itu mempunyai istilah Belajar/ Sianu sinau. Yang merupakan momen-momen yang mayoritas penduduk terpelajar ataupun pekerja menganggapnya membosankan sekalipun tak bisa ditinggal (PR tinggal nyontek anak terpintar di kelas, tugas nyuruh anak lain ngerjain) dibanding hang-out, bermain, ngobrol dengan pacar dan teman, olahraga.  Padahal, kegiatan yang disebut di akhir itu malah membutuhkan kemampuan “membaca” yang sebenarnya daripada berdiam diri.

Implementasi dari apa yang sudah dibaca itu konsumen terakhirnya adalah orang-orang disekitar. Bagaimana ngobrol nyaman ketika bergaul dengan penjahat cinta (setiap pacar selalu dinodai di depan umum), bermain olahraga tim dengan pemain yang super egois (maunya menonjol sendiri),  mempertahan harga diri diantara orang-orang yang mengagungkan reputasi dan kemewahan dengan menahan diri untuk tidak membalas peremehan (kegiatan yang bersifat gross itu tak ada yang mau melaksanakan), mengajak berkerja sosial dengan orang yang money oriented. Contoh nyata diatas mungkin contoh orang-orang disekitar yang negatif, dan ketika kita salah “membaca” situasi dan menerapkan sikap sekali saja, kebuntuan sisi emosional akan berlanjut menjadi konflik yang tak terhindarkan. Ini juga disebut manfaat membaca situasi, peristiwa dan membaca personal.

Hal ini tentu berbeda ketika kita bekerja dengan orang-orang yang mampu “membaca” hal-hal seperti itu yang , menghargai dan menghormati kita sebagai seseorang yang patut diberi rasa hormat dan menjadikan hidup kita semakin bernilai.

Shikamaru Nara

4 komentar:

  1. Membaca juga ndak hanya sekedar membaca saja, diperlukan juga pemahaman agar apa yang dibaca itu bisa bermanfaat bagi kita :)

    ternyata sampeyan penggemar komik naruto juga ya hehe

    BalasHapus
  2. @ikhsan :) mari mari
    @seagate: eo bang, ntu esensial banget. he he he, dari dulu bang dah ngefans ama narto eh naruto :D

    BalasHapus
  3. narto to ndak

    BalasHapus

komentar

Yang Sempat Mampir