15 Juli 2012

Tekanan, Tuntutan, Tanggung Jawab

di pojok



Dalam satu dan beberapa hal rutinitas yang membutuhkan keseriusan tingkat tinggi dan konsentrasi yang tak boleh terbagi-bagi. Menuntut profesional untuk mampu mengendalikan perasaan ( menihilkan emosi dari ego) ketika terjadi situasi yang berada diluar perhitungannya sebelumnya. Yang situasi ini membuat sebagian orang yang tak biasa mengalami tekanan yang hebat dari tuntutan pertanggungjawaban amanah. Sehingga situasi yang seharusnya selesai tanpa melibatkan perasaan (emosi dari ego) akhirnya alam bawah sadar ini mengaktifkan perasaan itu dan menjawab disertai alibi berbagai tuntutan yang muncul dari kesalahan yang tak perlu terjadi.


Mayoritas orang selalu kesulitan untuk melampaui apa yang dinamakan, tekanan, tuntutan, tanggung jawab. Bukan hanya untuk memenuhi permintaan, tetapi sekaligus mempesona di kalangan –kalangan yang penuh prospek dan prosperity. Sebab ketika mereka menghindari salah satu, ataupun ketiga hal tersebut, mereka akan dianggap sebagai pengecut, pecundang. Sebaliknya, jika mereka bisa memenuhinya, bahkan melampauinya (melebihi dari ekpektasi awal) , ketiga hal tersebut mampu  melapangkan jalan menuju keberhasilan yang diimpikan.

Bukankah sebagian besar orang menginginkan keberhasilan? Hal ini memang tak melulu mengenai harta dan kedudukan. Hal kecil seperti memenangkan hati seorang wanita juga merupakan keberhasilan. Bukan tubuh, tubuh sudah banyak dijajakan dimana-mana secara tersembuyi tentunya.

Keberhasilan itu menyenangkan. Ya, yang namanya kemenangan itu selalu menyenangkan, menggembirakan, memuaskan. Tujuan hidup ini untuk bahagia bukan? Berarti harus menang setiap hari kan? Apa begitu? Itu memang sikap mental yang bagus. Tetapi tak setiap hari juga kita akan merasakan kemenangan. Lalu bagaimana menyikapi situasi ketika kalah? Hal yang bisa dilakukan hanya mencoba dan cobalah. Untuk hasil akhir serahkan kepada kekuatan yang menguasai segalanya. 

Kegagalan itu memuakkan. Ya, kalah itu mampu menempatkan emosi dari ego sampai ke puncak ubun-ubun sehingga hampir seperti orang tak waras. Sesepele tak bisa mempertahankan hubungan percintaan saja membuat orang depresi tingkat dewa. Apalagi untuk hal yang lebih besar. Gagal masuk universitas idaman, berkali-kali lamaran kerja tak diterima dimana-mana, ditipu kawan sendiri untuk urusan kerjasama bisnis professional. Jiwa tak akan sehat jika emosi ditahan pada titik kegagalan ini. Hanya, jika seorang publik figur mengalaminya. Pikir kembali efek sampingnya ketika menunjukkannya di tempat umum. 

Saya yakin setiap orang mempunyai tempat /kawan akrab yang bisa menjadi cangkir ketika kita mengalami bahagia atau sedih. 
Walau hanya seorang. Atau tempat dimana orang merasa tenang. Kunjungi tempat dan kawan itu ketika mengalami kegagalan dan ceritakan semua masalah sampai terlepas dari benak. Itu akan menyegarkan. Dan tentu tanpa efek samping. Karena hal ini masuk dalam ranah pribadi.

Bukanlah hal yang mempesona membiarkan tekanan, tuntutan, tanggung jawab, terlepas dari bahu.  Itu akan menunjukkan sebagaimana dewasa jiwa ini menghadapi perubahan dan menyikapinya sesuai dengan spesialisasi dan kemampuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar

Yang Sempat Mampir